The Dark Age of Animation (Masa Kegelapan Animasi)

The Dark Age of Animation (Masa Kegelapan Animasi)

Setelah mengalami masa-masa keemasan, animasi harus menerima kenyataan pahit, memasuki masa-masa yang dikenal dengan istilah The Dark Age of Animation. Meskipun sebenarnya, film-film animasi masih terus diproduksi secara massal, namun media tayang film animasi beralih ke televisi. Film-film animasi berbiaya tinggi yang tayang di bioskop sangat sedikit yang diproduksi.

Setelah hampir 40 tahun mengalami masa keemasan, dari 1928 hingga 1960-an akhir, film animasi pun memasuki masa-masa kegelapan. Studio sekelas Warner Bross Animation pun terpaksa gulung tikar. Penyebab utama dari masa-masa gelap ini adalah televisi.

Film animasi yang sebelumnya tampil elegan di bioskop, pelan tapi pasti mulai masuk secara massal ke televisi. Para penonton film animasi yang sebelumnya rela merogoh koceknya untuk ke bioskop, pada akhirnya lebih menikmati tayangan serial animasi di televisi secara gratis.

Meskipun disebut sebagai masa-masa kegelapan, namun secara kuantitas jumlah produksi film animasi meningkat drastis. Meningkatnya jumlah stasiun televisi secara signifikan memberi ruang munculnya serial-serial animasi baru meskipun dengan biaya produksi yang lebih murah. Secara alamiah, film-film animasi berbiaya tinggi untuk penayangan dibioskop menjadi sepi penonton. Studio-studio yang selama ini menjadi ikon animasi beralih memproduksi film murah untuk tayang di televisi. Kalau tidak, maka studio tersebut akan memilih gulung tikar seperti Warner Bross Animation.

Salah satu ikon studio animasi yang telah ditinggal pendirinya, Walt Disney, pun mengambil sikap moderat dengan memproduksi berbagai serial animasi untuk televisi. Ketika dunia animasi memasuki masa-masa suram, Warner Bross Animation gulung tikar, Walt Disney Animation pun juga ditinggalkan oleh pendirinya. Masih merupakan keberuntungan yang sangat berharga ketika itu, Walt Disney Animation masih memiliki Ub Iwerks, animator yang juga memiliki talenta dalam pengembangan teknologi animasi.

Namun demikian, masa-masa kegelapan animasi ini pun patut disyukuri dengan munculnya berbagai karakter ikonik yang melegenda. Pun karakter-karakter ikonik peninggalan masa keemasan masih terus melanjutkan popularitasnya di masa-masa gelap ini.

Anime, atau kartun Jepang berhasil memaksimalkan potensi televisi ketika animasi di Hollywood kehilangan fokusnya dan masih meratapi masa lalunya di bioskop. Astro Boy, Doraemon, Dragon Ball, Digimon, Pokemon, berhasil menembus pasar Amerika Serikat. Keberhasilan anime ini membuat stasiun televisi seperti Cartoon Network menghentikan penayangan animasi klasik produksi Hanna Barbera dan beralih ke anime.

Sedangkan serial-serial animasi klasik lainnya seperti Donald Duck, Mickey Mouse, Pink Panther, atau Tom and Jerry masih diproduksi. Namun, jumlah tayang film-film serial warisan zaman keemasan ini masih kalah dibandingkan dengan anime. Di stasiun Cartoon Network, anime merajai penayangan hampir selama siang dan malam. Di masa kegelapan ini, animasi tidak lebih dari sekedar tayangan untuk anak-anak. Sebuah perspektif yang masih dirasakan sampai sekarang.

Beberapa karakter ikonik yang berhasil muncul selama masa kegelapan animasi adalah Scooby Doo, Yogi Bear, atau The Flinstones. Serial film animasi ini lebih sering tayang pada hari Minggu pagi. Namun, kelak serial animasi ini akan menginspirasi pada era yang lebih baik dari masa keemasan animasi, setelah 3D CGI muncul di akhir milenium.

Walt Disney Animation merupakan salah satu studio ikonik animasi yang berhasil bertahan selama hampr tiga dekade masa kegelapan. Studio ini masih memproduksi feature film meskipun dengan animo yang tidak mampu menyamai film-film live action. Beberapa feature film yang sempat diprodukasi oleh Disney adalah The Aristocats (1970), Robin Hood (1973), The Many Adventures of Winnie the Pooh (1977), The Rescuers (1977), The Fox and the Hound (1981), The Black Cauldron (1985), The Great Mouse Detective (1986), dan Oliver & Company (1988).

Masa-masa akhir dari era kegelapan ini mulai muncul tanda-tandanya ketika Disney merilis Beauty and The Beast pada tahun 1991. Film feature animasi yang berhasil memenangkan Academy Award ini memberi sinyal bahwa mereka bisa kembali ke bioskop dengan animo yang lebih baik dari masa-masa keemasan sekalipun. Tidak lama kemudian, tahun 1995, Pixar berhasil menerapkan teknologi baru, 3D CGI ke dalam film animasi Toy Story. Tampilan 3D CGI yang ketika itu merupakan barang baru meningkatkan animo masyarakat untuk kembali menonton animasi di bioskop.

Tidak lama kemudian, pada tahun 2002, Oscar memasukkan kategori khusus Academy Award for Best Animated Feature Film. Pada masa-masa awal kategori ini diberi syarat khusus bahwa jumlah feature animasi yang diproduksi dalam setahun minimal 8 film atau kategori akan ditiadakan. Teknologi animasi 3D CGI berhasil menghidupkan kembali film-film animasi di layar lebar.  Di tahun kedua kategori ini, terjaid kejutan ketika film animasi berteknologi 2D yang berhasil menang, yaitu The Spirited Away. Setelah itu, Wallace and Gromit yang berteknologi stopmotion juga berhasil memenangkan Oscar pada 2005. Dan akhirnya, diperalihan milenium film animasi “back to business”.

Referensi:

Disney Dark Age, http://disney.wikia.com/wiki/Disney_Dark_Age

The Dark Age of Animation, http://www.librarypoint.org/dark_age_of_animation

The Dark Age of Animation, https://tvtropes.org/pmwiki/pmwiki.php/UsefulNotes/TheDarkAgeOfAnimation

The Dark Age of Western Animation, https://www.deviantart.com/fastsonicous/journal/The-Dark-Age-Of-Western-Animation-568094139

One thought on “The Dark Age of Animation (Masa Kegelapan Animasi)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *